Para ahli sependapat, semua orang bisa belajar bahasa pemrograman C++, namun mentang-mentang Anda mempelajarinya bukan berarti Anda langsung mendapatkan pekerjaan.
Pekerjaan yang paling diincar tahun ini mungkin berakar pada melebarnya industri komputer, namun bukan hanya keahlian teknis dan kemampuan pemrograman yang memberikan kita kesempatan untuk direkrut.
“Keahlian yang paling banyak dicari para perekrut lebih pada keahlian dalam pemrosesan dan bahasa kode,” kata Rich Milgram, CEO jaringan karier Beyond, “Mempelajari sebuah teknologi adalah hal yang mudah. Memiliki pola pikir untuk menerapkannya, memprosesnya, dan mewujudkannya, serta berorientasi pada detail sambil melakukannya, itulah keahlian yang penting.”
Pembuatan teknologi membutuhkan keahlian yang unik dan mendalam agar hasil inovasinya dapat dipasarkan. “Atasan ingin mengambil, mengurai dan menerapkan data yang besar untuk menghadirkan solusi yang lebih baik kepada klien dan bisnis mereka sendiri,” katanya. “Mereka membutuhkan para ahli teknologi yang mampu merancang strategi yang lebih besar dan lebih baik serta melaksanakan strategi tersebut.”
Untuk mengungkap 10 keahlian yang paling dicari di 2013, kami menyusuri keahlian penting untuk pekerjaan-pekerjaan teratas di 2013 yang menurut CareerBuilder disebut sebagai pekerjaan yang paling banyak masuk di O*NET, pusat informasi pekerjaan AS, sejak 2010.
Tidak mengejutkan jika keahlian teknis dan berbagai bentuk terapannya banyak masuk ke dalam daftar keahlian yang paling dicari, meski demikian keahlian yang tidak begitu mencolok ini benar-benar mendominasi.
“Dengan mengetahui keahlian mana saja yang banyak dicari, bisa membantu pengambilan keputusan dalam hal pendidikan dan pekerjaan,” kata Brent Rasmussen, Presiden CareerBuileder Amerika Utara. “Ini bisa membantu para pekerja untuk mengidentifikasi hal apa saja yang berpotensi memperkaya keahlian mereka yang sekarang atau meningkatkan pendidikan mereka guna menyiapkan masa depan yang lebih baik.”
Berikut adalah 10 keahlian penting dalam pekerjaan guna meningkatkan peluang Anda untuk diterima di 2013:
1. Berpikir kritis
(9 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Menggunakan pola pikir yang logis dan beralasan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari berbagai macam solusi, kesimpulan, atau pendekatan dalam penyelesaian masalah.
2. Kemampuan memecahkan masalah yang rumit
(9 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Mengidentifikasi masalah rumit dan mengulas informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut untuk mengembangkan dan mengevaluasi pilihan solusinya serta menerapkannya.
3. Menilai dan mengambil keputusan
(9 dari 10 pekerjaan membutuhkan kemampuan ini)
Memperhitungkan kerugian dan keuntungan dari masing-masing tindakan guna memilih keputusan yang paling sesuai.
4. Aktif mendengarkan
(9 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Memerhatikan apa yang orang lain katakan dengan cermat, meluangkan waktu untuk memahami keputusan yang dibuat, bertanya hal yang perlu ditanyakan dan tidak menginterupsi pendapat orang lain.
5. Komputer dan elektronik
(8 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Pengetahuan papan sirkuit, prosesor, perlengkapan elektronik serta perangkat keras komputer termasuk aplikasi dan pemrograman.
6. Matematika
(6 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Pengetahuan aritmatika, aljabar, geometri, kalkulus, statistik, serta terapannya.
7. Operasional dan sistem analisa
(5 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Menentukan bagaimana sebuah sistem atau operasional bekerja dan bagaimana perubahan kondisi, operasional, dan lingkungan akan memengaruhi hasil produksi. Memahami kebutuhan dan persyaratan produk dari desain tertentu.
8. Pengawasan
(5 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Mengawasi dan mengakses kemampuan orang lain, organisasi atau diri Anda sendiri untuk membuat kemajuan atau melakukan koreksi.
9. Pemrograman
(tiga dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Melakukan pemrograman komputer untuk berbagai tujuan.
10 Penjualan dan pemasaran
(2 dari 10 pekerjaan membutuhkan keahlian ini)
Pengetahuan mendasar serta metode-metode untuk menunjukkan, mempromosikan, dan menjual berbagai produk atau layanan. Termasuk strategi pemasaran dan taktik, demonstrasi produk, teknik penjualan dan kontrol sistem penjualan.
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Ready to Start Your Own Business?
Having your own business means having your own responsibility. You be the boss and the employees in your own business. It will be fun, but also challenging.
Now it's time to find out if you are ready to start your own business, which is quoted from page Idiva, Friday (28/6).
Do you have the capital?
All businesses need money and no one can start a business without money. "Most companies that have money, take loans from the bank and must be able to repay," says Ankita Bharadwi, a boutique owner, give input.
Will it be profitable?
If your business turnover less, how you can pay your loan? In addition, you still need money to pay rent and taxes.
According Bharadwai, many people do not realize that the business can only be turned into a business bearing, if they are not thinking about the profit and loss.
Is able to operate freely?
It is not easy to make sure everything goes smoothly, the source, you and the client. "You will not realize the amount of responsibility on top of you until you get started. It is easier to work with a partner who can share responsibility," said Maya Kansal, a jewelry designer.
Is the location appropriate?
If you plan to rent or buy a place of business, you should have the right location for it. "If there is a great place, you will get the right customers," said Bharadwaj.
Who is the target?
You are not sure who should buy your clothes, so you sell the items for everyone. "It's better to stick to your target so you can be more creative. You can sell quality goods," said Kansal.
Now it's time to find out if you are ready to start your own business, which is quoted from page Idiva, Friday (28/6).
Do you have the capital?
All businesses need money and no one can start a business without money. "Most companies that have money, take loans from the bank and must be able to repay," says Ankita Bharadwi, a boutique owner, give input.
Will it be profitable?
If your business turnover less, how you can pay your loan? In addition, you still need money to pay rent and taxes.
According Bharadwai, many people do not realize that the business can only be turned into a business bearing, if they are not thinking about the profit and loss.
Is able to operate freely?
It is not easy to make sure everything goes smoothly, the source, you and the client. "You will not realize the amount of responsibility on top of you until you get started. It is easier to work with a partner who can share responsibility," said Maya Kansal, a jewelry designer.
Is the location appropriate?
If you plan to rent or buy a place of business, you should have the right location for it. "If there is a great place, you will get the right customers," said Bharadwaj.
Who is the target?
You are not sure who should buy your clothes, so you sell the items for everyone. "It's better to stick to your target so you can be more creative. You can sell quality goods," said Kansal.
How to be positiv every day
Do you have friends or colleagues who complain constantly?
If you do, you'll know how you feel after a conversation with them: tired, exhausted, feeling a bit fed up about your own life.
Do you know anyone who is always upbeat and positive?
If you talk with them, you will feel very different after: enthusiastic, re-excited, happy.
I suspect you can see things why positive thinking. With grateful for the good things in life - not complain about the bad - you will find that your mood is better, and that is almost magical, it better start happening to you.
It's easy, of course, for me to tell you to "see the bright side!" - But I know it's easier said than done. So here are five ways to become more positive about life, every day:
1. Recognize That You Have a Choice
When something "bad" or "good" that happens, you choose how to respond. If you find that hard to believe, think about how others might react to the same event: your father, your best friend, the President ....
Whatever happens to you, you can always learn something. If you make a mistake and got something wrong, at least you'll know what not to do next time!
2. Wake Up Positive
Start your day with something you can really enjoy. Which may be your favorite food for breakfast, or a beautiful scented soap in the bathroom. If you are looking forward to just one small thing when you wake up, then you've got your holiday with a good start.
You may want to accidentally end up on a high note as well - you can read a few chapters of a great novel before bed, or bath, relaxed length.
3. Watch Your Language
When you talk with colleagues, family or friends, such as what language are you using?
If you tell your partner "I have a horrible next day, I was so stressed just thinking about it," then you put yourself in a negative frame of mind.
If you and your colleagues usually complain about the job, looking for a more positive subject. Try asking "what are you looking forward to this week?"
4. Reframe events
"Reframing" is a popular technique in life coaching, where you create a negative event into a more positive view them deliberately in a different light. So, "I'm really busy, but we're out of milk, and I have to go to the store" could be "I'll go for a brisk walk to the store, grab the milk we need, and have a mini-break from work so I can come back refreshed. "
For more information about the advice reframing, there is an excellent series on the blog Vlad Dolezal's life coach.
5. Write Down Three Good Things
You may have found the concept of "gratitude journal" before, where you record the things you are grateful. This is a surprisingly powerful practice that can help you to not only feel better, but also take action to keep improving your life.
You do not have to spend hours writing long-winded journal. Today, try to write only three things you are thankful for - you can use single words or short phrases.
If you do, you'll know how you feel after a conversation with them: tired, exhausted, feeling a bit fed up about your own life.
Do you know anyone who is always upbeat and positive?
If you talk with them, you will feel very different after: enthusiastic, re-excited, happy.
I suspect you can see things why positive thinking. With grateful for the good things in life - not complain about the bad - you will find that your mood is better, and that is almost magical, it better start happening to you.
It's easy, of course, for me to tell you to "see the bright side!" - But I know it's easier said than done. So here are five ways to become more positive about life, every day:
1. Recognize That You Have a Choice
When something "bad" or "good" that happens, you choose how to respond. If you find that hard to believe, think about how others might react to the same event: your father, your best friend, the President ....
Whatever happens to you, you can always learn something. If you make a mistake and got something wrong, at least you'll know what not to do next time!
2. Wake Up Positive
Start your day with something you can really enjoy. Which may be your favorite food for breakfast, or a beautiful scented soap in the bathroom. If you are looking forward to just one small thing when you wake up, then you've got your holiday with a good start.
You may want to accidentally end up on a high note as well - you can read a few chapters of a great novel before bed, or bath, relaxed length.
3. Watch Your Language
When you talk with colleagues, family or friends, such as what language are you using?
If you tell your partner "I have a horrible next day, I was so stressed just thinking about it," then you put yourself in a negative frame of mind.
If you and your colleagues usually complain about the job, looking for a more positive subject. Try asking "what are you looking forward to this week?"
4. Reframe events
"Reframing" is a popular technique in life coaching, where you create a negative event into a more positive view them deliberately in a different light. So, "I'm really busy, but we're out of milk, and I have to go to the store" could be "I'll go for a brisk walk to the store, grab the milk we need, and have a mini-break from work so I can come back refreshed. "
For more information about the advice reframing, there is an excellent series on the blog Vlad Dolezal's life coach.
5. Write Down Three Good Things
You may have found the concept of "gratitude journal" before, where you record the things you are grateful. This is a surprisingly powerful practice that can help you to not only feel better, but also take action to keep improving your life.
You do not have to spend hours writing long-winded journal. Today, try to write only three things you are thankful for - you can use single words or short phrases.
7 Kiat Sukses Jadi 'Anak Baru' di Kantor
Menjadi anak baru di kantor memang bukanlah hal yang mudah. Jangan terjerumus dalam hal-hal kecil yang bisa membuat anda diasingkan. Pelajari 7 tips berikut ini.
Setelah melalui proses rekrutmen yang menantang, kini saatnya Anda memasuki kantor baru. Seperti apa teman kerja, lingkungan, dan apakah mereka akan menyukai Anda tentunya membuat hati berdebar-debar.
Jangan khawatir, selalu ada cara agar Anda mudah diterima. Ingat, jangan hanya fokus ke diri Anda tapi juga perhatikan lingkungan dan teman sekerja.
1. Cara Berpakaian
Anda adalah anak baru di kantor. Jangan berharap teman sekerja langsung bisa mengenali kepribadian Anda. Penampilan luar merupakan salah satu poin kesan pertama Anda. Gunakan pakaian yang pantas dan tidak berlebihan di hari pertama bekerja. Seperti apa gaya berbusana di kantor baru bisa Anda pelajari saat datang wawancara atau ketika proses rekrutmen di kantor tersebut. Jika Anda belum pernah sama sekali mengunjungi kantor Anda, tak ada salahnya memilih pakaian yang lebih rapih ketimbang yang lebih santai. Ini adalah momen untuk menciptakan kesan pertama, pastikan pakaian yang dipilih bisa memberi gambaran seperti apa kepribadian Anda di tempat kerja. Jangan menggunakan aksesori atau makeup berlebihan yang seakan meminta perhatian. Bisa jadi hal tersebut malah membuat Anda menjadi bahan omongan miring di tempat kerja baru.
2. Budaya Kantor
Mempelajari seperti apa budaya kantor baru Anda sangatlah penting. Ada kantor yang santai, formal, atau kombinasi antara keduanya. Pastikan Anda mempelajari dulu seperti apa budaya kantor Anda dari perilaku teman-teman sekerja, hubungan teman sekerja dengan atasan, dan sebaliknya. Ada kantor yang Anda bisa dengan santai menghampiri meja bos untuk berdiskusi, ada juga kantor yang bahkan Anda tak akan punya kesempatan untuk berbicara dengan bos besar Anda. Anda tentunya tak mungkin mengingat banyak hal dalam waktu yang singkat. Gunakan catatan untuk mengingat hal-hal yang penting.
3. Kepribadian yang Positif
Dalam proses bekerja, suatu saat Anda pasti membutuhkan bantuan rekan kerja. Jangan bangun dinding yang tinggi pada hari pertama kerja. Sapa rekan kerja yang Anda temui dengan senyum. Untuk awal, cukup sapa dengan senyum atau hai. Tak perlu terlalu keras berusaha mengobrol seakan Anda sudah mengenal mereka lama. Terlalu 'sok akrab' malah akan membuat Anda dijauhi di tempat kerja. Biarkan hubungan Anda tumbuh secara alami lewat proses interaksi sehari-hari. Pada masa-masa awal kerja, jika ada ajakan untuk hang-out selepas kerja, usahakan untuk ikut serta. Lewat kesempatan yang lebih santai tersebut Anda bisa mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengakrabkan diri. Usahakan untuk seimbang dalam mendekati berbagai jenis rekan kerja. Terlalu banyak mendekati rekan kerja laki-laki atau terlalu memilih mendekati atasan akan membuat Anda cepat jadi bisik-bisik kantor.
4. Mengingat Nama & Posisi
Ini merupakan hal yang penting untuk membangun kesan pertama. Usahakan untuk mengingat nama teman sekerja Anda, minimal yang satu bagian atau divisi. Anda juga bisa membuat semacam peta nama agar mudah mengingat. Gambar secara umum posisi duduk dan tulis nama teman Anda untuk memudahkan mengingat. Pilih satu atau dua orang yang Anda ingat betul, lalu minta bantuan mereka untuk mengingat nama-nama teman lainnya. Mengetahui posisi orang tersebut di perusahaan juga penting. Jangan sampai sikut-sikutan di lift dengan rekan sekerja yang ternyata salah satu orang penting di perusahaan Anda. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut dalam minggu pertama. Lakukan bertahap dimulai dari orang yang paling sering berinteraksi dengan Anda.
5. Bantu & Inisiatif
Salah satu cara untuk mudah disukai di tempat kerja baru adalah menjadi rekan kerja yang senang membantu dan berinisiatif. Tentunya lagi-lagi jangan berlebihan. Pastikan pekerjaan Anda tetap bisa diselesaikan walau harus membantu tugas rekan kerja. Jika pekerjaan Anda sudah selesai, jangan hanya berdiam diri dan menunggu penugasan selanjutnya. Tanyakan kepada atasan atau rekan kerja apa yang bisa Anda lakukan atau siapa yang bisa Anda bantu.
6. Semangat Bekerja
Pernah saya memiliki rekan baru yang selalu datang telat dan sering pulang cepat. Hal tersebut tentunya bukan hal yang tepat untuk memberi kesan pertama yang baik. Usahakan selalu datang sedikit lebih cepat jika memungkinkan dan pulang setelah waktunya atau sudah ada rekan kerja lain yang pulang. Pelajari dulu bagaimana kebiasaan kantor baru Anda. Ada kantor yang karyawannya tidak pulang sebelum bosnya pulang. Ada juga yang bebas pulang pergi asal pekerjaan selesai. Untuk bulan-bulan awal selama Anda masih masa penilaian, usahakan selalu tepat waktu saat datang dan berkontribusi lebih. Setelah mempelajari kebiasaan perusahaan, pelan-pelan Anda bisa menyesuaikan diri. Salah satu kesan pertama yang harus dihindari adalah malas!
Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah meminimalisir kepentingan pribadi pada jam kerja. Usahakan sesedikit mungkin chatting, membuka situs jejaring sosial, atau izin untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.
7. Hindari Bergosip
Godaan terlibat bergosip memang kadang susah ditolak. Untuk masa-masa awal sebaiknya hindari terlibat dalam kegiatan pergosipan. Jangan sampai citra Anda sebagai anak baru menjadi miring karena ikut-ikutan berkomentar dan terlibat dalam tim gosip. Sebagai anak baru, sebaiknya perbanyakan teman daripada lawan.
Setelah melalui proses rekrutmen yang menantang, kini saatnya Anda memasuki kantor baru. Seperti apa teman kerja, lingkungan, dan apakah mereka akan menyukai Anda tentunya membuat hati berdebar-debar.
Jangan khawatir, selalu ada cara agar Anda mudah diterima. Ingat, jangan hanya fokus ke diri Anda tapi juga perhatikan lingkungan dan teman sekerja.
1. Cara Berpakaian
Anda adalah anak baru di kantor. Jangan berharap teman sekerja langsung bisa mengenali kepribadian Anda. Penampilan luar merupakan salah satu poin kesan pertama Anda. Gunakan pakaian yang pantas dan tidak berlebihan di hari pertama bekerja. Seperti apa gaya berbusana di kantor baru bisa Anda pelajari saat datang wawancara atau ketika proses rekrutmen di kantor tersebut. Jika Anda belum pernah sama sekali mengunjungi kantor Anda, tak ada salahnya memilih pakaian yang lebih rapih ketimbang yang lebih santai. Ini adalah momen untuk menciptakan kesan pertama, pastikan pakaian yang dipilih bisa memberi gambaran seperti apa kepribadian Anda di tempat kerja. Jangan menggunakan aksesori atau makeup berlebihan yang seakan meminta perhatian. Bisa jadi hal tersebut malah membuat Anda menjadi bahan omongan miring di tempat kerja baru.
2. Budaya Kantor
Mempelajari seperti apa budaya kantor baru Anda sangatlah penting. Ada kantor yang santai, formal, atau kombinasi antara keduanya. Pastikan Anda mempelajari dulu seperti apa budaya kantor Anda dari perilaku teman-teman sekerja, hubungan teman sekerja dengan atasan, dan sebaliknya. Ada kantor yang Anda bisa dengan santai menghampiri meja bos untuk berdiskusi, ada juga kantor yang bahkan Anda tak akan punya kesempatan untuk berbicara dengan bos besar Anda. Anda tentunya tak mungkin mengingat banyak hal dalam waktu yang singkat. Gunakan catatan untuk mengingat hal-hal yang penting.
3. Kepribadian yang Positif
Dalam proses bekerja, suatu saat Anda pasti membutuhkan bantuan rekan kerja. Jangan bangun dinding yang tinggi pada hari pertama kerja. Sapa rekan kerja yang Anda temui dengan senyum. Untuk awal, cukup sapa dengan senyum atau hai. Tak perlu terlalu keras berusaha mengobrol seakan Anda sudah mengenal mereka lama. Terlalu 'sok akrab' malah akan membuat Anda dijauhi di tempat kerja. Biarkan hubungan Anda tumbuh secara alami lewat proses interaksi sehari-hari. Pada masa-masa awal kerja, jika ada ajakan untuk hang-out selepas kerja, usahakan untuk ikut serta. Lewat kesempatan yang lebih santai tersebut Anda bisa mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengakrabkan diri. Usahakan untuk seimbang dalam mendekati berbagai jenis rekan kerja. Terlalu banyak mendekati rekan kerja laki-laki atau terlalu memilih mendekati atasan akan membuat Anda cepat jadi bisik-bisik kantor.
4. Mengingat Nama & Posisi
Ini merupakan hal yang penting untuk membangun kesan pertama. Usahakan untuk mengingat nama teman sekerja Anda, minimal yang satu bagian atau divisi. Anda juga bisa membuat semacam peta nama agar mudah mengingat. Gambar secara umum posisi duduk dan tulis nama teman Anda untuk memudahkan mengingat. Pilih satu atau dua orang yang Anda ingat betul, lalu minta bantuan mereka untuk mengingat nama-nama teman lainnya. Mengetahui posisi orang tersebut di perusahaan juga penting. Jangan sampai sikut-sikutan di lift dengan rekan sekerja yang ternyata salah satu orang penting di perusahaan Anda. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut dalam minggu pertama. Lakukan bertahap dimulai dari orang yang paling sering berinteraksi dengan Anda.
5. Bantu & Inisiatif
Salah satu cara untuk mudah disukai di tempat kerja baru adalah menjadi rekan kerja yang senang membantu dan berinisiatif. Tentunya lagi-lagi jangan berlebihan. Pastikan pekerjaan Anda tetap bisa diselesaikan walau harus membantu tugas rekan kerja. Jika pekerjaan Anda sudah selesai, jangan hanya berdiam diri dan menunggu penugasan selanjutnya. Tanyakan kepada atasan atau rekan kerja apa yang bisa Anda lakukan atau siapa yang bisa Anda bantu.
6. Semangat Bekerja
Pernah saya memiliki rekan baru yang selalu datang telat dan sering pulang cepat. Hal tersebut tentunya bukan hal yang tepat untuk memberi kesan pertama yang baik. Usahakan selalu datang sedikit lebih cepat jika memungkinkan dan pulang setelah waktunya atau sudah ada rekan kerja lain yang pulang. Pelajari dulu bagaimana kebiasaan kantor baru Anda. Ada kantor yang karyawannya tidak pulang sebelum bosnya pulang. Ada juga yang bebas pulang pergi asal pekerjaan selesai. Untuk bulan-bulan awal selama Anda masih masa penilaian, usahakan selalu tepat waktu saat datang dan berkontribusi lebih. Setelah mempelajari kebiasaan perusahaan, pelan-pelan Anda bisa menyesuaikan diri. Salah satu kesan pertama yang harus dihindari adalah malas!
Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah meminimalisir kepentingan pribadi pada jam kerja. Usahakan sesedikit mungkin chatting, membuka situs jejaring sosial, atau izin untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.
7. Hindari Bergosip
Godaan terlibat bergosip memang kadang susah ditolak. Untuk masa-masa awal sebaiknya hindari terlibat dalam kegiatan pergosipan. Jangan sampai citra Anda sebagai anak baru menjadi miring karena ikut-ikutan berkomentar dan terlibat dalam tim gosip. Sebagai anak baru, sebaiknya perbanyakan teman daripada lawan.
Tim Antarmuka ITB Dikirim India

Setelah memenangi Rural Innovation Award dalam Imagine Cup 2008, Tim Antarmuka yang terdiri dari 4 mahasiswa ITB akan dikirim ke Bangalore, India. Tepatnya di Microsoft Research Center. Demikian dikatakan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Tony Chen saat menghadiri presentasi Butterfly sistem oleh Tim Antarmuka di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
"Tim ini akan mendapatkan kesempatan belajar lebih lanjut di Microsoft Research Center yang ada di Bangalore, India. Microsoft Research Center ini research center kelas dunia. Bisa tampil di situ pasti merupakan sebuah pencapaian tersendiri," kata Tony.
Dia menambahkan, keempat mahasiswa tersebut adalah Ella Mandella, Arief Widhiyasa, Dimas Yusuf Danurwenda, dan Erga Ghaniya yang diharapkan bisa belajar lebih banyak untuk mengembangkan diri dan kemampuan mereka.
Sementara itu, Ella dan Erga bersyukur atas kesempatan belajar yang mereka dapatkan. Kapan mereka akan berangkat? "Kami disuruh milih, bebas mau kapan berangkatnya. Jadi, kami sekarang lagi menyelesaikan kuliah dulu. Targetnya bulan Juli tahun 2009 kuliah selesai, Agustusnya kami berangkat ke India," kata Ella.
Rencananya, mereka akan berada di Bangalore selama 4 bulan. Selama di India, mereka dapat melakukan riset teknologi untuk membantu perkembangan masyarakat rural.
Kampus Arastamar
Ratusan mahasiswa penghuni asrama Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) milik Yayasan Bina Setia terpaksa dievakuasi ke kampusnya akibat penyerangan yang dilakukan oleh warga Kampung Pulo, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, Jumat (25/7). Akibat penyerangan ini, dua asrama mengalami kerusakan parah.
Penyerangan yang berlangsung sejak pukul 23.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB tersebut berawal dari warga yang menuduh dua mahasiswa SETIA melakukan pencurian. Kemudian, oleh warga, kedua mahasiswa tersebut diinterogasi.
warga mengaku terganggu dengan aktivitas kampus. kenapa hal ini bisa terjadi.
kemunkinan penyebab sesungguhnya:
1. sikap mahasiswa yang melanggar aturan2 warga.
2. warga tidak suka dengan sikap2 mahasiswa.
3. kampus kurang bersatu dengan warga sekitar.
4. perbedaan keyakinan membuat warga risi mendengar atau melihat ajaran di kampus.
tp menurut saya kemungkinan besar kesalah dari kampus yang kurang bersosial dengan masyarakat. karena sosial yang baik bisa meredam masalah2 yang ada di dalam masyarakat.
emang susah kasih tau penggemar kitabsuci tu...
ga cuma Alkitab, penggemar Alquran jg bnyak.
Terbukti Amrozi lebih parah...
pa lagi Baasir...
kapan sih dunia ini sa menghargai orang lain!
ga cuma di lihat dari keyakinan dunk....
lebih ke menghargai bahwa semua ciptaan Tuhan bro...
Penyerangan yang berlangsung sejak pukul 23.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB tersebut berawal dari warga yang menuduh dua mahasiswa SETIA melakukan pencurian. Kemudian, oleh warga, kedua mahasiswa tersebut diinterogasi.
warga mengaku terganggu dengan aktivitas kampus. kenapa hal ini bisa terjadi.
kemunkinan penyebab sesungguhnya:
1. sikap mahasiswa yang melanggar aturan2 warga.
2. warga tidak suka dengan sikap2 mahasiswa.
3. kampus kurang bersatu dengan warga sekitar.
4. perbedaan keyakinan membuat warga risi mendengar atau melihat ajaran di kampus.
tp menurut saya kemungkinan besar kesalah dari kampus yang kurang bersosial dengan masyarakat. karena sosial yang baik bisa meredam masalah2 yang ada di dalam masyarakat.
emang susah kasih tau penggemar kitabsuci tu...
ga cuma Alkitab, penggemar Alquran jg bnyak.
Terbukti Amrozi lebih parah...
pa lagi Baasir...
kapan sih dunia ini sa menghargai orang lain!
ga cuma di lihat dari keyakinan dunk....
lebih ke menghargai bahwa semua ciptaan Tuhan bro...
Mustahil menjadi Nyata
Dasar orang stress! Justru celaan seperti itulah yang diterima oleh pasangan paman dan keponakan, Sunarya dan Slamet Hadi dari Dusun Sungai Tengah Jember Jawa Timur, saat pertama kali melaksanakan misinya pada tahun 1994. Semangat mulia mereka untuk mencari solusi penerangan bagi desanya yang selama bertahun-tahun tak terjangkau listrik negara, harus menghadapi sikap pesimistis dari sebagian besar tetangganya. Bagi sebagian besar warga dusun Sungai Tengah, upaya membuat listrik dengan cara memahat tebing bukit berbatu keras demi mengalirkan air ke dusun dan menciptakan listrik dari air, benar-benar tak pernah sampai di pemikiran mereka. Sebuah kerja berat yang oleh dua orang ini, dilakukan awalnya secara "trial and error" saja karena mereka tak berbekal pengetahuan teknik yang memadai soal "teknologi pembangkit listrik".
Namun berkat kegigihan dan kerja keras tak kenal lelah Sunarya dan Slamet Hadi, justru warga yang pertama kali mencibir merekalah yang pertama kali juga meminta aliran listrik ke rumahnya. Listrik berdaya 5000 watt dari kincir air, berhasil diciptakan duet "pakdhe" dan "ponakan" ini untuk menerangi sekitar 150 rumah di dusun Sungai Tengah. Bahkan kegigihan pasangan ini, akhirnya memotivasi sekitar 50 warga lainnya untuk mengikuti jejak mereka membuat generator pembangkit listrik mini di rumahnya masing-masing.
Sementara bagi warga Bagendit Garut Jawa Barat, iuran sesendok beras dan uang seratus rupiah per hari mampu diubah menjadi bangunan madrasah atau sekolah, masjid, jalan beraspal hingga fasilitas umum dan sosial desa. Warga desa Bagendit mampu mengubah wajah desanya menjadi lebih indah dan sejahtera secara swadaya, tanpa campur tangan bantuan dari pemerintah.
Semuanya berawal dari tradisi turun temurun iuran sesendok beras per hari yang tetap dipatuhi setiap warga, untuk dikumpulkan sebagai dana swadaya masyarakat. Tekad untuk meneruskan tradisi ini, dilaksanakan oleh kepala desa Bagendit yang juga mewarisi jabatan itu dari ayahnya, Yayan Sofyan. Didukung oleh sejumlah tokoh pemuda desa, muncul inovasi untuk menambahi iuran sesendok beras dengan iuran uang seratus rupiah per hari. Dengan pengelolaan yang baik, dana tersebut mampu dikembangkan selain sebagai dana pembangunan desa, juga sebagai dana simpan pinjam, dana asuransi kesehatan hingga dana beasiswa sekolah ke tingkat SMA.
Sedangkan bagi Abu Wenna, petambak dari desa Lauwa, Wajo, Sulawesi Selatan, abrasi pantai di daerahnya yang mencapai 17 meter per tahun benar-benar menjadi kepedulian utamanya. Tanpa memperdulikan celaan tetangganya yang menganggapnya sebagai orang gila, Abu Wenna sendirian menyusuri pantai teluk Bone dan mulai menanami pesisir pantai dengan beragam tanaman Mangrove pada tahun 1994. "Semua orang berpendapat bahwa menanam Mangrove sia-sia untuk mencegah abrasi, menurut mereka harusnya dengan pembangunan beton untuk memagari pantai. Tapi bagi saya, tanaman Mangrove-lah yang paling tepat untuk menjaga pantai dari pengikisan" terang Abu Wenna.
Alhasil, sikap cuek Abu Wenna untuk terus melaksanakan misinya berujung dengan sejumlah keberhasilan. Abrasi pantai di kawasan Teluk Bone telah berkurang drastis sepanjang 17 kilometer, berkat rerimbunan tanaman Mangrove yang ditanam Abu Wenna. Tak hanya itu, kerja kerasnya menyelamatkan pantai dari pengikisan diakui oleh pemerintah pusat. Pada 5 Juni 2008 lalu, Abu Wenna diundang presiden SBY ke Istana Negara untuk menerima penghargaan Kalpataru sebagai salah satu tokoh perintis lingkungan hidup.
Penghargaan serupa juga dianugerahkan pada Sriyatun Djupri, ibu rumah tangga dari kelurahan Jambangan Surabaya yang mempunyai kepedulian tinggi pada kebersihan lingkungan. Saat pertama pindah dari Trenggalek, Sriyatun langsung berhadapan dengan perilaku buruk membuang sampah dan hajat sembarangan ke Kali Surabaya yang sudah membudaya dari warga sekitarnya. Padahal, air dari Kali Surabaya-lah yang digunakan oleh PDAM Surabaya sebagai sumber bahan baku air bersih untuk warga Surabaya.
Sejak tahun 1973, Sriyatun mulai bergerilya memberikan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih ke warga sekitar. Butuh waktu hingga tahun 1986, hingga akhirnya Sriyatun berhasil memotivasi sekitar 1000 warga yang tersebar di 14 kecamatan sekitar Jambangan, untuk menghapus tabiat buruk mereka. Selanjutnya, tak hanya bisa menanamkan budaya hidup sehat dan bersih, Sriyatun berhasil menaikkan taraf perekonomian kadernya dari sampah. Lewat berbagai inovasi pengelolaan dan pengolahan sampah, Sriyatun mengubah limbah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Pupuk kompos, beragam barang kerajinan dari sampah plastik bernilai ekspor, pakan ikan hingga bahan baku jamu menjadi penambah penghasilan kader lingkungan Sriyatun dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. "Bagi saya, asal mau mengolah sampah dengan baik, selain akan menjadikan berkah juga akan menghasilkan rupiah" tutup Sriyatun dengan mantap.
Namun berkat kegigihan dan kerja keras tak kenal lelah Sunarya dan Slamet Hadi, justru warga yang pertama kali mencibir merekalah yang pertama kali juga meminta aliran listrik ke rumahnya. Listrik berdaya 5000 watt dari kincir air, berhasil diciptakan duet "pakdhe" dan "ponakan" ini untuk menerangi sekitar 150 rumah di dusun Sungai Tengah. Bahkan kegigihan pasangan ini, akhirnya memotivasi sekitar 50 warga lainnya untuk mengikuti jejak mereka membuat generator pembangkit listrik mini di rumahnya masing-masing.
Sementara bagi warga Bagendit Garut Jawa Barat, iuran sesendok beras dan uang seratus rupiah per hari mampu diubah menjadi bangunan madrasah atau sekolah, masjid, jalan beraspal hingga fasilitas umum dan sosial desa. Warga desa Bagendit mampu mengubah wajah desanya menjadi lebih indah dan sejahtera secara swadaya, tanpa campur tangan bantuan dari pemerintah.
Semuanya berawal dari tradisi turun temurun iuran sesendok beras per hari yang tetap dipatuhi setiap warga, untuk dikumpulkan sebagai dana swadaya masyarakat. Tekad untuk meneruskan tradisi ini, dilaksanakan oleh kepala desa Bagendit yang juga mewarisi jabatan itu dari ayahnya, Yayan Sofyan. Didukung oleh sejumlah tokoh pemuda desa, muncul inovasi untuk menambahi iuran sesendok beras dengan iuran uang seratus rupiah per hari. Dengan pengelolaan yang baik, dana tersebut mampu dikembangkan selain sebagai dana pembangunan desa, juga sebagai dana simpan pinjam, dana asuransi kesehatan hingga dana beasiswa sekolah ke tingkat SMA.
Sedangkan bagi Abu Wenna, petambak dari desa Lauwa, Wajo, Sulawesi Selatan, abrasi pantai di daerahnya yang mencapai 17 meter per tahun benar-benar menjadi kepedulian utamanya. Tanpa memperdulikan celaan tetangganya yang menganggapnya sebagai orang gila, Abu Wenna sendirian menyusuri pantai teluk Bone dan mulai menanami pesisir pantai dengan beragam tanaman Mangrove pada tahun 1994. "Semua orang berpendapat bahwa menanam Mangrove sia-sia untuk mencegah abrasi, menurut mereka harusnya dengan pembangunan beton untuk memagari pantai. Tapi bagi saya, tanaman Mangrove-lah yang paling tepat untuk menjaga pantai dari pengikisan" terang Abu Wenna.
Alhasil, sikap cuek Abu Wenna untuk terus melaksanakan misinya berujung dengan sejumlah keberhasilan. Abrasi pantai di kawasan Teluk Bone telah berkurang drastis sepanjang 17 kilometer, berkat rerimbunan tanaman Mangrove yang ditanam Abu Wenna. Tak hanya itu, kerja kerasnya menyelamatkan pantai dari pengikisan diakui oleh pemerintah pusat. Pada 5 Juni 2008 lalu, Abu Wenna diundang presiden SBY ke Istana Negara untuk menerima penghargaan Kalpataru sebagai salah satu tokoh perintis lingkungan hidup.
Penghargaan serupa juga dianugerahkan pada Sriyatun Djupri, ibu rumah tangga dari kelurahan Jambangan Surabaya yang mempunyai kepedulian tinggi pada kebersihan lingkungan. Saat pertama pindah dari Trenggalek, Sriyatun langsung berhadapan dengan perilaku buruk membuang sampah dan hajat sembarangan ke Kali Surabaya yang sudah membudaya dari warga sekitarnya. Padahal, air dari Kali Surabaya-lah yang digunakan oleh PDAM Surabaya sebagai sumber bahan baku air bersih untuk warga Surabaya.
Sejak tahun 1973, Sriyatun mulai bergerilya memberikan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih ke warga sekitar. Butuh waktu hingga tahun 1986, hingga akhirnya Sriyatun berhasil memotivasi sekitar 1000 warga yang tersebar di 14 kecamatan sekitar Jambangan, untuk menghapus tabiat buruk mereka. Selanjutnya, tak hanya bisa menanamkan budaya hidup sehat dan bersih, Sriyatun berhasil menaikkan taraf perekonomian kadernya dari sampah. Lewat berbagai inovasi pengelolaan dan pengolahan sampah, Sriyatun mengubah limbah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Pupuk kompos, beragam barang kerajinan dari sampah plastik bernilai ekspor, pakan ikan hingga bahan baku jamu menjadi penambah penghasilan kader lingkungan Sriyatun dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. "Bagi saya, asal mau mengolah sampah dengan baik, selain akan menjadikan berkah juga akan menghasilkan rupiah" tutup Sriyatun dengan mantap.
Program Buku Gratis Lewat Internet Belum Tersosialisasi
Liputan6.com, Jakarta: Sebagian warga beberapa waktu silam mengeluh kesulitan memperoleh buku pelajaran di toko buku. Tapi, masalah tersebut kini bisa diatasi setelah di Kelapa Gading Trade Center, Jakarta Utara, dibuka pusat buku nasional. Diharapkan pusat buku nasional ini bisa menjadi jawaban karena hampir semua penerbit menjual terbitannya di gerai tersebut.
Kebijakan larangan sekolah menjual buku oleh Departemen Pendidikan Nasional membuat penerbit dihadapi situasi serba salah.
Namun, mulai tahun ajaran baru ini Depdiknas menawarkan buku gratis yang dapat diakses lewat situs www.bse.depdiknas.go.id. Tapi, hingga pelajaran berlangsung program tersebut belum berjalan lancar.
Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Atas 80, Jakarta. Belum ada satu jenis buku yang digunakan siswa dan guru sebagai pegangan. Akibatnya siswa hanya mengandalkan modul dari guru.(IAN/Novarini dan Agus Priyatno)
Kebijakan larangan sekolah menjual buku oleh Departemen Pendidikan Nasional membuat penerbit dihadapi situasi serba salah.
Namun, mulai tahun ajaran baru ini Depdiknas menawarkan buku gratis yang dapat diakses lewat situs www.bse.depdiknas.go.id. Tapi, hingga pelajaran berlangsung program tersebut belum berjalan lancar.
Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Atas 80, Jakarta. Belum ada satu jenis buku yang digunakan siswa dan guru sebagai pegangan. Akibatnya siswa hanya mengandalkan modul dari guru.(IAN/Novarini dan Agus Priyatno)
Pemerintah Belum Proaktif Dukung Pendidikan
Yogyakarta, Kompas - Sistem politik dan kebijakan pemerintahan di DI Yogyakarta dinilai belum proaktif mendukung eksistensi dan perkembangan kota pendidikan dan budaya ini. Kebijakan pengembangan potensi wilayah yang terlihat mencolok justru berorientasi kepada kepentingan elite tertentu.
Ini terungkap dalam Seminar 250 Tahun Yogyakarta di kampus Universitas Sanata Dharma (USD) Mrican, Selasa (15/8). Seminar yang diprakarsai Pusat Studi Sejarah Indonesia dan Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) USD menampilkan sejumlah pembicara, yakni antropolog Universitas Gadjah Mada PM Laksono, sejarawan USD H Purwanta, pengamat perkotaan Bakti Setiawan, sineas Garin Nugroho, dan staf pengajar USD YB Adimassana.
Adimassana menyatakan, politik pemerintah DIY tidak secara proaktif ikut menyemarakkan pengembangan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya. Ini misalnya dalam penyediaan lahan untuk sekolah yang baik, sarana-prasarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan umum, science dan research center, termasuk pada pengaturan indekos serta lalu lintas.
"Yang terlihat mencolok justru pengembangan mal, kafe, atau perumahan elite sehingga kenyataan yang terjadi justru kontraproduktif terhadap pengembangan pendidikan," katanya.
Adimassana menyatakan, seharusnya pemerintah belajar dari sejumlah tokoh besar di bidang pendidikan negara ini yang secara nyata menyebarkan semangat kebebasan, kebangsaan, kerakyatan, kemanusiaan, dan pencerdasan bangsa, pun ketika berhadapan dengan politik kekuasaan pada zamannya. Perubahan kekuasaan
PM Laksono menyoroti masalah efek perubahan kekuasaan di Yogyakarta. Ia mengungkapkan, masyarakat Jawa sudah terbagi struktur- struktur tertentu, yang salah satunya ditunjukkan dalam penggunaan bahasa, misalnya bahasa Jawa yang terbagi dalam ngoko dan krama. Bahasa Jawa yang terbagi dalam ngoko dan krama menentukan status seseorang.
"Karena penetrasi sistem ekonomi yang kapitalistik dan eksploitatif, keberadaan masyarakat tradisional atau etnik ini menjadi terpengaruh. Namun, tersingkirnya masyarakat etnik jangan semata-mata dilihat sebagai hilangnya keaslian, tapi lebih kepada hilangnya pribadi dan rasa percaya diri. Reposisi budaya etnik memerlukan suatu gerakan sosial untuk meraih rekognisi dari bangsa. Di sini keagungan budaya etnik tidak perlu diagung-agungkan, tapi efikasi pembangunan juga tidak perlu dilebih-lebihkan," ujarnya. (ONI/BEN)
Ini terungkap dalam Seminar 250 Tahun Yogyakarta di kampus Universitas Sanata Dharma (USD) Mrican, Selasa (15/8). Seminar yang diprakarsai Pusat Studi Sejarah Indonesia dan Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) USD menampilkan sejumlah pembicara, yakni antropolog Universitas Gadjah Mada PM Laksono, sejarawan USD H Purwanta, pengamat perkotaan Bakti Setiawan, sineas Garin Nugroho, dan staf pengajar USD YB Adimassana.
Adimassana menyatakan, politik pemerintah DIY tidak secara proaktif ikut menyemarakkan pengembangan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya. Ini misalnya dalam penyediaan lahan untuk sekolah yang baik, sarana-prasarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan umum, science dan research center, termasuk pada pengaturan indekos serta lalu lintas.
"Yang terlihat mencolok justru pengembangan mal, kafe, atau perumahan elite sehingga kenyataan yang terjadi justru kontraproduktif terhadap pengembangan pendidikan," katanya.
Adimassana menyatakan, seharusnya pemerintah belajar dari sejumlah tokoh besar di bidang pendidikan negara ini yang secara nyata menyebarkan semangat kebebasan, kebangsaan, kerakyatan, kemanusiaan, dan pencerdasan bangsa, pun ketika berhadapan dengan politik kekuasaan pada zamannya. Perubahan kekuasaan
PM Laksono menyoroti masalah efek perubahan kekuasaan di Yogyakarta. Ia mengungkapkan, masyarakat Jawa sudah terbagi struktur- struktur tertentu, yang salah satunya ditunjukkan dalam penggunaan bahasa, misalnya bahasa Jawa yang terbagi dalam ngoko dan krama. Bahasa Jawa yang terbagi dalam ngoko dan krama menentukan status seseorang.
"Karena penetrasi sistem ekonomi yang kapitalistik dan eksploitatif, keberadaan masyarakat tradisional atau etnik ini menjadi terpengaruh. Namun, tersingkirnya masyarakat etnik jangan semata-mata dilihat sebagai hilangnya keaslian, tapi lebih kepada hilangnya pribadi dan rasa percaya diri. Reposisi budaya etnik memerlukan suatu gerakan sosial untuk meraih rekognisi dari bangsa. Di sini keagungan budaya etnik tidak perlu diagung-agungkan, tapi efikasi pembangunan juga tidak perlu dilebih-lebihkan," ujarnya. (ONI/BEN)
Langganan:
Postingan (Atom)


